Al-Hayyu dan Al-Hayya

بسم الله الرحمن الرحيم


Telah kita ketahui bersama bahwa kalimat,

 "استغفرالله العظيم الذي لا اله الا هوالحي القيوم و اتوب اليه"

Merupakan kalimat dzikir yang sudah mendunia karna keagungannya. tak sedikit bahkan munkin semua umat islam biasa dengan kalimat dzikir tersebut, walaupun kenyataanya entah dalam pengamalannya.
Kali ini mari kita berbagi pengetahuan tentang I’rob kalimat dzikir yang telah mendunia tersebut karna pada kenyataannya ada pebedaan membaca diantara para pengamal, terutama dikalangan santri dan kyai, dengan dasar yang mereka ketahui. Namun tidak sedikit pula dengan perbedaan yang perjadi dalam cara membaca, menjadikan perselisihan bahkan mengecam menjadi sebuah kesalahan yang berakibat fatal terhadap keharmonisan bersosial yang berawal dari kurangnya wawasan pengetahuan yang mendasar.
I’rob pada kalimat dzikir tersebut ada perdebatan pada cara meng-i'rob lafadz الحي"" pada bacaan

"استغفرالله العظيم الذي لا اله الا هوالحي القيوم و اتوب اليه"

Ada yang membaca Al-Hayyu dan ada pula yang membaca Al-Hayya.
Sebelumnya mari kita cermati dulu apa kedudukan lafadz "Al-Hayy" tersebut? Pada awalnya lafadz Al-Hayy yakni menjadi sifat ketiga dari lafadz "alloha" yang menjadi maf'ul dari lafadz "astaghfiru"
Jadi yang membaca Al-Hayya jelas itu benar sekali karena i'rob sifat mengikuti mausuf.
Tapi perlu diingat bahwa hukum sifat terbagi dua yaitu:
1. Wajib itba' (i'rob sesuai dengan mausuf) dengan kaidah jika mausuf membutuhkan sifat
2. Boleh itba' dan boleh qotho' (i'rob tidak sesuai dengan mausuf) dengan kaidah jika mausuf tidak membutuhkan sifat. Seperti termaktub dalam bait syair alfiyyah :

واقطع او اتبع ان يكن معينا # بدونها او بعضها اقطع معلنا

Dari bait syair tersebutlah yang menjadikan keluarnya statement berbedanya cara membaca lafadz Al-Hayy. Yang awalnya menjadi sifat ketiga  dari lafadz Alloha yang menjadi maf’ul dari lafadz Astghfiru.
Karna dalam bacaan ini yang menjadi mausuf adalah lafadz Alloha maka jelas Alloh tidaklah membutuhkan sifat maka bisa menggunakan I’rob qotho’. Artinya yang membaca Al-Hayyu pun, tidak boleh disalahkan, karena lafadz Al-hayyu bisa menjadi  sifat yang dibaca qotho' dengan mengkira-kirakan lafadz sebagai penyempurna makna susunan. Yaitu dengan mengkira-kirakan lafadz  الله /هو  yang dijadikan sebagai mubtada’ mahduf dan Al-Hayyu menjadi khobar dari mubtada’ mahduf tersebut.
Dengan berdasarkan ulasan diatas, Jadi, membaca "huwal hayyul qayyum" ataupun "huwal hayyal qayyum" itu sama-sama benar karna ada dasar dalil yang membolehkan, yang tidak boleh itu  membaca HUWIL HIYYIL QIYIM  karna tidak ada dasar dalilnya.
Munkin ulasan tersebut bisa menjadi sedikit penambah wawasan kita atau sebagai ajang muroja’ah kita atas pengetahuan yang telah terlupakan. Namun apabila ada kekeliruan dalam mengulas mohon bantu koreksinya supaya menjadi pengetahuan lebih bagi saya khususnya.



selalu semangat, tak ada kata berhenti belajar, selalu penasasan dengan keadaan, ayo semangat belajar, mondok, ngaji, dan taat pada kiyai.


https://amilmaknawi.blogspot.com/

Komentar

Unknown mengatakan…
Mantap bang ....


Tingkat kan lagi....aku haus nasehat nih...
Bismillah Laa Haula mengatakan…
insya Alloh,, bantu bang,, semoga ada manfaatnya
Unknown mengatakan…
Siap bang...

Postingan populer dari blog ini

Lirikan mata merupakan sebuah kalam

Syi’ah dan Tafsir Al-Qur’an